Tuesday, 1 May 2012

@ Pos Indonesia Menggeliat, Melalui Tranformasi

Perangko, merupakan salah satu benda pos yang paling populer. Namun sayang, keberadaan teknologi mulai menggusur keberadaannya. Namun kini, Pos Indonesia mulai menggeliat dengan merangkul teknologi, memordenisasi dan memperbarui organisasi. Menambah pencapaian bisnis perusahaan tersebut.
----------------

Direktur Utama PT Pos Indonesia, Dr. I Ketut Mardjana
Gedung yang terletak di Jalan Cilaki, Bandung tersebut nampak kuno. Ornamen pemerintahan Belanda masih dipertahankan. Di sebelahnya, Museum Pos Indonesia tetap berdiri kokoh. Maklum, ornamen gaya Belanda dari gedung yang dibangun sejak 1928 ini masih tetap dipertahankan. Namun begitu, kesan kuno yang ditimbulkan bukan berarti kuno juga pengelolaan perusahaan yang melayani mobilitas informasi ini.

Direktur utama PT Pos Indonesia, Dr. I Ketut Mardjana yang juga berkantor di lantai 2 gedung tersebut mengatakan, pihaknya sejak pertengahan 2008 melakukan pembenahan semua aspek yang ada pada PT Pos. Pencapaiannya, kata Ketut PT Pos yang sejak sepuluh tahun terakhir (2003) mengalami defisit anggaran (rugi) kini mulai mengalami kenaikan laba. Profit marginnya kini di proyeksikan menembus angka 5,33 (2012) yang semula hanya berada pada kisaran 0,22.
Lebih lanjut, pria lulusan Doktor dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Monash University, Australia ini mengatakan, pencapaiannya pada tahun 2011 jika dibandingkan pada 2010, PT Pos mengalami perbaikan dari sisi bisnis. Berdasarkan data dari Konsultan Akuntan Publik (KAP), pendapatan PT Pos pada tahun 2011 sebesar 3 Trilyun, EBIT (laba sebelum pajak) mencapai Rp 156,468 Miliyar, sedangkan EAT-nya (laba bersih) menembus angka 144,981 Miliyar. Masih menurut data KAP, laba komprehensif PT Pos sebesar Rp 144,436 Miliyar dengan pertumbuhan 219,92 persen.
Tidak hanya dari sisi laba yang meningkat, kata Ketut melainkan tingkat kesehatan perusahaan ini juga meningkat. Tahun 2011 tingkat kesehatan perusahaan mendapat skor 75 (Sehat A), pada tahun sebelumnya perusahaan ini hanya mendapat skor 58. Tentu, semua pencapaian ini atas keberanian Ketut sejak awal memimpin perusahaan yang berada di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika ini pada Agustus 2008.
Kiat Membangun Perusahaan
Tentu pencapaian ini bukan tanpa usaha, dengan dilatarbelakangi pengalamannya memimpin beberapa perusahaan swasta, Lelaki yang pernah mendapat beasiswa pendidikan dari Departemen Keuangan (sekarang kementerian keuangan) selama kuliahnya di Institut Ilmu Keuangan (IIK) ini banyak merubah pola pikir karyawan dan pola kerja dari perusahaan.
Perubahan ini, kata Ketut diawali saat pertama kali memimpin PT Pos, sejak pertengahan 2008. “Saya hanya sebulan mempelajari tentang perusahaan Pos, dari diseluruh dunia melalui internet. Dan, Saya turun kelapangan untuk mengetahui semua permasalahan yang ada,” ujar Ketut. Dari hasil ini, lalu dibicarakan pada jajaran direksi.
Ketika kita sudah mengetahui semua aspek, kata Ketut lalu kita buat terapi pemecahan masalahnya. “Ada dua hal mendasar pembenahan di dalam internal PT Pos yakni modernization dan empowerment,” katanya. Modernisasi ini dengan mengubah arah pikiran menjadi Infrastruktur Bisnis berbasis ICT (Information Communication Technology), yakni merubah semua cara kerja menjadi berbasis teknologi, perkembangan Teknologi Informasi dan komunikasi, ICT menjadi backbone operasional Pos Indonesia. Kalau empowerment terkait dengan pola kerja organisasi yang overlapping (tumpang tindih).
Ketut menguraikan, modernisasi yang ia lakukan sejak 2009 dengan mengganti armada pos yang sudah berumur 10 tahun. “Harus kita ganti, karena kendaraan-kendaraan yang telah berumur 10 tahun membutuhkan biaya perawatan yang tinggi, seperti bahan bakar dan perawatan lainnya,” katanya. “Maka kita membuat program rotasi infrastruktur tiap 5 tahun sekali,” tambah Ketut.
Lebih jauh, Ketut menjelaskan, kendaraan-kendaraan yang dirotasi selama 5 tahun ini diperoleh dengan sistem sewa. “Memang, untuk hal ini membutuhkan tambahan biaya. Tapi, dengan diterapkannya program seperti ini orang-orang menjadi tertarik untuk datang ke Kantor Pos, karena percaya dengan armada yang dimiliki oleh PT Pos,” katanya. Modernisasi armada, katanya lagi selain untuk efisiensi kerja juga untuk pembangunan citra di masyarakat.
Kalau terapi empowerment adalah memutus mata rantai pengambilan keputusan di tiap-tiap daerah. “Selama ini menggunakan kebijakan dari pusat. Hal ini tentu pengambilan keputusan berjalan lambat, maka saya memberikan power atau kekuatan di tiap-tiap unit kerja di tiap daerah,” katanya. Selain itu, langkah empowerment diambil dari kasus organisasi yang saling tumpang tindih. Saling tumpang tindihnya ini terlihat dari job desk yang telah ada. “Untuk memuluskan pola kerja yang efisien hingga sampai ke daerah maka kita buat Surat Keputusan Direksi,” tegas Ketut.
Budaya Perusahaan
Menjawab Tantangan
Setiap perusahaan, pasti akan menuai tantangan. Baik karena perkembangan teknologi maupun persaingan usaha yang makin ketat. Hal ini, tak terkecuali dialami oleh PT Pos. Apalagi, melalui amanat Undang-Undang Dasar No. 38 Tahun 2009, bisnis pos dibuka selebar-lebarnya, bisnis ini baik untuk perusahaan domestik maupun asing. Namun, sejak awal Ketut tidak sama sekali mengkhawatirkan hal ini. “Kita sangat terbuka menghadapi persaingan ini,” kata Ketut.
Untuk menyeimbangkan persaingan terbuka ini, pihaknya selain memodernisasi semua lini pelayanan dengan mengampayekan budaya perusahaan yang lebih tegas melalui slogan “CINTA POS”. Budaya perusahaan yang berupa singkatan ini diuraikan oleh Ketut menjadi: C: Customer Orientation, I: Integrity (untuk para karyawan), N: Network (setiap karyawan harus memiliki network yang luas), T: Team Work, A: Accountable, P: Professional (setiap pelanggan harus menerima perlakuan yang sama tanpa melihat status sosial), O: Obsessed, dan S: Spiritual.
Dengan budaya perusahaan ini, maka persaingan ini akan berubah menjadi tekanan untuk berubah. Maka, upaya pembenahan dari segala lini yang dilakukan oleh Ketut, mulai dari armada yang dimodernisasi dan organisasi yang dirampingkan hingga budaya perusahaan salah satunya dibuktikan oleh pihak luar dari PT Pos, maka beragam penghargaan pun datang.
Penghargaan tersebut diantaranya: Juara 2 kategori inovasi produk jasa BUMN terabaik (Anugerah BUMN 2011), Kategori The Best Logistic (Indonesia Brand Champion 2011 dari Marketeer/Markplusinsight), BUMN teraktif pengelola portal aset sektor transportasi dan pergudangan (Kementerian BUMN 2011), Tempat pembayaran pajak favorit dan pengumpul surat setoran pajak (Tax Award dari Menteri Keuangan—2009), Skor Integritas tertinggi untuk layanan pembayaran bantuan pemerintah dari KPK—2009, Quality managemen certification dari UPU—2010, dan ASIA Pacific agent of the year 2010 dan Business Champion 2010 dari Western Union.
Tentu, pencapaian kinerja ini selain diiringi dengan strategi yang mapan dari para pengambil keputusan juga dibarengi dengan peningkatan kinerja karyawan. Dengan begitu, visi-misi PT Pos untuk menjadi pemimpin pasar di Indonesia dengan menyediakan layanan surat, paket, dan logistik yang handal serta jasa keuangan yang terpecaya dapat tercipta dengan baik. Dengan begitu, perusahaan plat merah yang kini menginjak usia ke-265 tahun, juga akan menggeliatkan perekonomian Indonesia di kancah dunia.

No comments:

Post a Comment